pada suatu malam

pada suatu malam musim kemarau
ketika aku berjalan-jalan sendirian
seorang gadis memanggilku
singgah. padahal aku seorang lelaki
dengan impian yang mati, sedang diriku
tersingkup kabut rindu

rembulan merayap lunglai bagai
bunga yang berpijar di malam musim semi
sepasang bayangan melenyap di bawah
naungan pepohonan
kami berbincang panjang
tentang sepi dan kesendirian

ia berkata :
kini di tengah musim kemarau
matamu bagai kolam di hutan sunyi
dimana rembulan tinggal sepanjang malam
dan tak mau pergi hingga datang pagi
namun aku menjawab,
meskipun pepohonan akan sarat
oleh bunga dan dedaunan hijau
namun kolamku bukanlah rumah tinggal
ia akan segera surut
begitu datang matahari

rembulan merayap lunglai bagai
bunga yang berpijar di malam musim semi
sepasang bayangan melenyap di bawah
naungan pepohonan
ia mengatakan sesuatu
dan aku menjawabnya
kamipun hilang ditelan malam
hanya ada kerisik pelan
daun-daun yang mulai berguguran

This entry was posted by Arif Susilo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: