Jalan Keempat (4th Way)

Interpretasi Praktis Ajaran PD Ouspensky Tentang Psikologi Kesadaran Manusia

Ouspensky adalah salah satu pelopor dari aliran baru psikologi kesadaran kontroversial yang dia namakan Jalan Keempat. Beberapa ahli Psikologi menggolongkan ajaran Ouspensky sebagai sebuah ajaran mistik yang dirasionalisasikan. Sementara yang lain menganggapnya sebagai penerus model pemikiran psikologi baru. Namun yang jelas, ajarannya tidak pernah populer, karena selain sulit diterima oleh orang banyak dikarenakan oleh beberapa hal, ajarannya juga “berlawanan dengan kebiasaan dunia” seperti yang diungkapkan oleh Ouspensky sendiri dalam 4th Way.

Walaupun ajarannya tidak begitu populer, namun selalu ada ‘sekolah’ atau perkumpulan yang mempelajari ajaran Ouspensky di setiap negara di setiap masa. Hal ini sesuai dengan perkataan Ouspensky bahwa akan selalu ada penerus, walaupun mungkin ia gagal untuk meneruskan ajarannya pada orang lain. Apabila dicari dengan search engine, kata “Ouspensky” akan didapat hasil situs pengikutnya yang tersebar luas di beberapa negara, bahkan hingga ke negara-negara kepulauan kecil yang jarang penduduknya.

Ajaran Ouspensky selalu bersifat praktis dan mendunia. Tidak akan ditemukan kata-kata iman, Tuhan dan sejenisnya dalam 4th Way, walaupun dalam beberapa referensi Ouspensky mengacu pula pada kutipan-kutipan kecil dalam Kitab Perjanjian Baru untuk menguatkan teori-teorinya. Namun seluruh tema dalam ajarannya adalah Psikologi, yang dia sebut sebagai “psikologi yang sesungguhnya”.

4th Way mengacu pada beberapa term yang spesial dan khas, seperti; Diri, Identifikasi, Mengingat diri, Pusat Magnetik dan sebagainya, dimana kata-kata tersebut memegang peranan amat penting dalam sistim psikologi Ouspensky. Mencoba memahami ajaran Ouspensky berarti mencoba memahami diri kita sendiri, di pandang dari sudut yang sama sekali baru. Ajarannya sulit untuk dijalankan secara praktis, namun apabila berhasil, hasilnya; mengagumkan. Selamat mengingat-ingat diri sendiri!

Aku yang banyak

4th Way mengajarkan bahwa dalam diri manusia tidak ada “aku” yang tunggal, atau aku yang tetap. Sesuatu yang kita anggap sebagai “aku” kita, sebenarnya hanyalah salah satu dari aku-aku yang lain yang jumlahnya tak terhitung. Pada setiap saat, yang muncul hanyalah salah satu ‘aku’ saja, dan disaat yang lain, yang muncul adalah aku yang lain lagi. Ouspensky mengatakan ‘saat kita merasa memiliki satu aku, sebenarnya yang terjadi adalah pikiran atau perasaan kita tengah dikuasai oleh ‘aku’ tersebut, yang muncul secara temporer pada saat itu. Tujuan ajaran Ouspensky adalah untuk membentuk ‘Aku’ yang tunggal pada diri kita. Aku yang tunggal itu merupakan ‘penguasa’ dari aku-aku kecil yang lainnya. Apabila selama ini hidup kita dikuasai oleh aku-aku yang kecil itu, maka dengan terbentuknya Aku yang tunggal maka seluruh diri kita, aku-aku kita, menjadi terkontrol oleh Aku besar yang terbentuk baru tersebut. Mengapa disebut sebagai aku yang baru terbentuk ? karena pada dasarnya, tidak ada manusia yang dilahirkan dengan sudah memiliki Aku tunggal tersebut. Aku yang tunggal adalah hasil dari pembelajaran dan pelaksanaan 4th Way. Aku tersebut merupakan hasil dari perjuangan yang berkesinambungan dalam melaksanakan pengontrolan diri (aku-aku yang banyak).

Aku yang banyak merupakan bentuk manifestasi dari pusat-pusat yang terdapat pada diri manusia, yaitu :

1. Pusat Intelek
2. Pusat Emosi
3. Pusat Gerakan
4. Pusat Insting

Masing-masing pusat memiliki andil atas pembentukan aku yang banyak. Sebagai contoh; aku merasa tidak suka, adalah bentukan dari pusat emosi. Sedangkan aku berpikir tentang sesuatu hal, adalah merupakan bentukan dari pusat intelek. Saat kita makan, itu merupakan manifestasi pusat gerakan. Dan saat merasakan panas dan dingin, itu adalah bentukan dari pusat insting.

Apabila Aku yang tunggal sudah bisa terbentuk atau tercapai, maka manusia akan mudah mencapai suatu kondisi yang dinamakan kondisi “sadar”. Kondisi ‘sadar’ tersebut dinamakan sebagai kondisi ‘terjaga’ dari tidur. Dan memang Ouspensky menyebutkan bahwa kondisi kita pada saat ini adalah kondisi ‘tidur’.

This entry was posted by Arif Susilo.

One thought on “Jalan Keempat (4th Way)

  1. Hmm… Saya masih sangat sulit untuk membentuk ‘Aku’ yang tunggal. Dan sangatlah hina ketika Saya berkelakuan meniru orang lain. Inikah tuntutan kehidupan…? Padahal Saya mampu untuk mencitpakan ‘Aku’ yang tunggal itu, suatu saat. Seandainya Saya tidak berkelakuan seperti saat ini…

    Saya merindukan masa-masa di mana Saya adalah manusia yang kotor. Manusia yang tidak pernah memakai wewangian, yang jarang makan, jarang tidur, dan jarang menyapa manusia di dekatnya. Inilah Aku yang sebenarnya. Tapi itu dahulu… Dunia telah meracuniKu untuk mengubur ‘Aku’ dalam kehidupanKu sendiri. Aku berusaha melawannya, hanya Aku butuh asistensi dari orang lain. Ini mungkin akan lebih membantu.

    Yang jelas Aku butuh saran,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: