Hujan Jangan Datang

Aku cinta hujan.

Aku berkali-kali jatuh cinta pada hujan.

Pada mendungnya. Petirnya. Kilatnya. Terutama desau angin penyertanya. Banjirnya? Ya, bahkan pada resiko banjir sesudah hujan berkepanjangan. Hingga detik menulis  ini aku belum pernah gagal mengulik kesenangan dari banjir.

Tetapi kali ini aku sedang tak ingin ada hujan meski di hati cinta tak pernah berhenti untuknya. Kemarau… Kemarau… Begitu aku seru berulang-ulang. Namun kembali hujan datang. Memaksa aku bersedekap dan cemberut. Mengecewakannya. Karena toh hujan harus dibuat mengerti kehadirannya kali ini berbuah penolakan.

kali ini hujan sama sepertimu bukan?

Refleksi Di Bawah Awan Hitam

Dari berbagai hal yang pernah saya pikirkan, mungkin tidak ada hal yang lebih rumit dari pada diri saya sendiri. Saya anggap diri saya tak ada bedanya dengan orang lain, kehidupan, pikiran dan lain sebagainya, semuanya masih normal tak kurang suatu apapun, namun yang paling mengganggu pikiran saya adalah : mengapa saya sering merasa asing dengan diri saya sendiri ? mengapa saya sering mempertanyakan keberadaan diri saya yang seakan-akan tak “nyata” ? memang orang lain jarang yang memikirkan hal ini, dan saya anggap mereka tidak punya kesempatan untuk memikirkannya karena memang sibuk (atau menikmati ?) dalam menjalani hidup ini. Kesibukan dunia ini memang merupakan misteri kedua bagi saya setelah diri saya sendiri. Kadang saya bertanya-tanya kesibukan itu untuk apa ? apakah untuk bertahan hidup ? apakah untuk mengisi hidup ? dsb dsb.

Jawabannya tak pernah ada yang cocok dengan pikiran saya.

Mentertawakan orang lain

Hal yang paling menghibur manusia adalah menertawakan orang lain yang sedang sial. Lihat saja acara komedi di tv, mereka yang paling disukai adalah mereka yang selalu diejek dan dianggap goblok. Lalu mengapa perbuatan menertawakan ini dapat dianggap legal sah, dan menggembirakan banyak orang ? benar-benar dunia yang konyol ! dari sisi lain hal ini menampakkan ego manusia yang gembira bila melihat orang lain berada di bawahnya. Dengan menertawakan orang lain, kita mengejeknya dengan mengatakan bahwa diri kita tidaklah mungkin melakukan perbuatan serendah itu. Kita tidak mungkin se-sial itu. Dengan menertawakan orang lain, kita meninggikan ego kita. Seolah-olah diri kita adalah tuhan yang sempurna dan tak mungkin berbuat suatu kesalahan apapun. Kerja para pelawak adalah kerja yang menyakitkan; mereka dibayar untuk mengejek dan diejek habis-habisan. Semakin menyakitkan ejekan yang mereka terima, makin populer pamor mereka. Itulah mengapa banyak pelawak yang mati dalam kesengsaraan. Tertawalah karena bahagia, dan bukan tertawa karena ada orang lain sengsara.

Cinta dan kebahagiaan

Cinta yang sesungguhnya didapatkan dengan cara melepaskan, memberikan, dan mengorbankan sesuatu yang sangat kita pegang erat-erat. Apabila anda mencintai peliharaan anda, maka anda akan melepaskannya ke alam bebas agar ia dapat hidup dengan bebas dan bahagia. Adapun ia tidak mau dikembalikan ke alam bebas itu adalah kebahagiaannya sendiri. Cinta yang ingin mendapatkan sesuatu bukanlah cinta, namun keinginan, atau ketergila-gilaan yang amat kuat. Segera setelah anda mendapatkannya, “cinta” itu akan mati. Berganti dengan kepedihan, luka, pertikaian dan ketidak puasan. Cinta yang sesungguhnya adalah sense of happiness, keberadaan yang membahagiakan. Kadang hal ini disalah artikan dalam kehidupan rumah tangga; ‘saya mencintai istri saya. Saya mencintai anak saya’. Itu bukanlah cinta yang sesungguhnya. Mengapa demikian ? karena cinta yang dibarengi dengan kepemilikan akan menjadi cinta yang menyesatkan, dan tak layak lagi disebut cinta. Anda mengatakan cinta pada istri anda, padahal setiap hari hidup anda dibuat kesal olehnya. Anda tidak bahagia. Itu bukanlah cinta. Anda mencintai kekasih anda. Namun setiap hari sangat takut untuk kehilangan dirinya. Anda tidak bahagia. Itu bukanlah cinta. Itu adalah penderitaan. Apakah Cinta = Penderitaan ? tidak. Cinta yang sesungguhnya adalah membahagiakan setiap saat, membangun, memelihara, dan memberikan yang terbaik. Bila setiap hari anda bertengkar dengan istri anda yang mengesalkan dan masih menganggap anda mencintainya. Anda salah. Anda hanya takut kehilangan dirinya. Cinta yang sesungguhnya adalah rela melepaskan segalanya dan tetap bahagia. Anda mencintai seseorang. Anda tidak mendapatkannya, dan ia tidak mencintai anda. Namun anda bahagia. Maka itulah cinta. Cinta tidak pernah membunuh. Cinta tidak pernah menyakitkan. Bila anda merasakan cinta, namun menyakitkan, maaf, itu bukanlah cinta. Itu hanyalah ketergila-gilaan karena ingin memiliki sesuatu. Cinta adalah memancar keluar, sedangkan kegilaan merengkuh kedalam. Anda tidak akan pernah memiliki sesuatu, selama anda mencintainya. Anda memiliki segalanya, dengan mencintai satu hal saja.

Menghadapi diri sendiri

Menghadapi diri sendiri; apakah kita musuh bagi diri kita sendiri ? tidak demikian adanya. Yang dimaksudkan untuk dihadapi adalah sisi gelap dari kita sebagai manusia. Apakah sisi gelap itu ? sisi gelap manusia adalah emosi negatif, pikiran negatif, gerakan negatif dan instink negatif. Negatif adalah ; bergerak ke arah yang destruktif, tidak membawa manusia pada kesadaran yang ‘sejati’. Yang harus kita lakukan adalah mematahkan pola-pola kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari. Dengan pematahan itu maka diri kita akan berontak. Kita akan berhadapan dengan sisi gelap manusia, yaitu bagian dari diri kita yang sangat kuat, yang selama ini mengendalikan kita. Berhadapan dengan diri sendiri merupakan saat-saat yang sangat menyiksa dan mengerikan. Anda akan merasa lepas kontrol. Anda merasa tidak mengenal diri anda lagi. Dan pada detik-detik batin anda bertanya “siapakah diri saya yang sebenarnya ?”, maka pada saat itu juga anda telah mengalahkannya. Dialah setan yang sesungguhnya.

Perbudakan oleh pikiran

Dari mulai bisa berpikir, kita telah diperbudak oleh pikiran kita sendiri. Anda berpikir bahwa saya begini, saya begitu, namun sebenarnya anda yang sebenarnya tidaklah demikian; itu hanya buah kerja pikiran anda. Apabila anda berpikir; diri saya ingin begini, maka sebenarnya pikiran andalah yang menginginkannya. Anda diperbudak oleh pikiran dan menganggapnya itu adalah keinginan anda. Tentunya ada pertanyaan ; apakah kita yang sebenarnya, bila itu bukanlah pikiran kita ? “cogito ergo sum’ demikian descartes berkata, “saya berpikir karena itu saya ada”. Namun saat saya tidak berpikir pun, saya tetap ada. Benarkah ? pikiran bukanlah anda, pikiran adalah pelayan bagi anda, mengapa selama ini anda mau saja di perbudak olehnya ? “saya berpikir” bukanlah kata yang tepat, namun tepatnya mungkin adalah “pikiran saya” ingin ini dan itu. Lalu bila pikiran bukanlah anda, bukanlah saya, bukanlah kita, maka siapakah kita ? kita adalah kita, pemilik pikiran dan pengendalinya. Master of The Minds. Lalu mengapa anda mau saja dibawa kesana dan kemari oleh pikiran anda saat ini ?

Salam Terakhir

 : masih buat kakakku tercinta

Aku belum pernah menyaksikan orang mati
Hingga setelah malam ini
Waktu tlah berhenti untuk-Mu
Tak tersisa sedetik pun
Bahkan untukmu berpaling sejenak
Sekedar menyampaikan salam terakhir
Kali ini,,
Selamanya berarti “selamanya”
jasad usang beterbangan jadi debu
berdoa seikhlas hati
“dari tanah kembali ke tanah”

Benarkah? Aku hidup di dalam mati?